Oleh
: Abu Bakr ‘Abdurrazzaq bin Shalih bin ‘Ali An-Nahmiy
Orang
pertama yang mencetuskan paham Rafidlah adalah ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahud dari
kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman, kemudian datang ke Madinah
pada masa khalifah yang lurus, ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ‘anhu.
Mereka
dinamakan dengan Rafidlah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan
Zaid bin ‘Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan
dengan Abu Bakar dan ‘Umar, tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka
berdua. Maka mereka mengatakan,”Jika demikian, kami akan meninggalkanmu”. Maka
beliau (Zaid bin ‘Ali) berkata,”Pergilah ! Sesungguhnya kalian adalah Rafidlah
(orang-orang yang meninggalkan)”.
Adz-Dzahabi
berkata dalam Siyaru A’laamin-Nubalaa’ (5/390) bahwa ‘Isa bin Yunus
berkata,”Orang-orang Rafidlah datang menemui Zaid, lantas mereka berkata :
‘Buatlah pernyataan putus hubungan dengan Abu Bakar dan ‘Umar sehingga kami
membantumu’. Maka beliau menanggapi : ‘Bahkan aku loyal kepada mereka berdua’.
Mereka pun berkata : ‘Jika demikian, maka kami meninggalkanmu’. Dari situlah
mereka dikatakan Rafidlah”.
Syaikhul-Islam
Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu’ Fataawaa (4/435) : “Dikatakan kepada
Al-Imam Ahmad : ‘Siapa itu Rafidlah ?’. Beliau menjawab : ‘Orang yang mencela
Abu Bakar dan ‘Umar’. Karena alasan inilah mereka dinamakan Rafidlah. Sebab,
mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali ketika beliau loyal kepada kedua khalifah
tersebut sedangkan mereka benci kepada keduanya. Sehingga orang yang membenci
mereka berdua dinamakan Rafidlah”.
Ada
yang berkata bahwa mereka dinamakan Rafidlah sebab mereka meninggalkan Abu Bakar
dan ‘Umar.
Ibnu
Taimiyyah juga berkata pada sumber yang lalu,”Asal-usul Rafidlah dari kalangan
munafiq dan zindiq. Rafidlah itu dibuat oleh Ibnu Saba’ yang zindiq. Dia
menampakkan sikap ekstrim mendukung ’Ali dengan propaganda bahwa ’Ali lebih
berhak untuk kepemimpinan dan ada wasiat bagi ’Ali”.
Beliau
juga berkata pada (28/483),”Para ulama menyebutkan bahwa permulaan paham
Rafidlah adalah dari seorang zindiq bernama ’Abdullah bin Saba’. Dia menampakkan
keislaman dan menyembunyikan agama Yahudinya. Dia ingin merusak Islam
sebagaimana yang dilakukan Paulus An-Nashraniy yang dahulunya Yahudi ketika
merusak agama Nashrani”.
Ibnu
Abil-’Izz Al-Hanafiy berkata dalam Syarh Ath-Thahawiyyah hal. 490 dengan
tahqiq Al-Albani,”Asal mula paham Rafidlah dimunculkan oleh seorang munafiq lagi
zindiq yang bermaksud meruntuhkan agama Islam dan mencela Rasul shallallaahu
’alaihi wasallam sebagaimana disebutkan para ulama. Karena ’Abdullah bin
Saba’ si Yahudi ketika menampakkan Islam, dia hanya ingin merusak Islam dengan
tipu daya dan keburukannya, sebagaimana dilakukan Paulus terhadap agama
Nashrani. Dia berpenampilan orang yang rajin beribadah, kemudian dia perlihatkan
amar ma’ruf nahi munkar sampai akhirnya dia berupaya memfitnah ’Utsman dan
membunuhnya. Kemudian ketika datang ke Kuffah, dia menampakkan sikap ekstrim
terhadap ’Ali dan pembelaan kepadanya agar dengan itu ia mampu untuk mencapai
tujuan-tujuannya. Berita itu akhirnya sampai kepada ’Ali, maka ’Ali bermaksud
membunuhnya sehingga dia melarikan diri darinya menuju Qarqis. Dan berita
tentangnya sudah sangat dikenal dalam sejarah. Buku-buku sejarah menyebutkan
bahwa Ibnu Saba’ dulunya seorang Yahudi kemudian dia tampakkan keislamannya
padahal dia seorang munafiq zindiq”.
Ath-Thabari
telah menyebutkannya dalam At-Taarikh (4/430) bahwa Ibnu Saba’ dahulunya
seorang Yahudi dari penduduk Shan’a.
Ibnul-Atsir
berkata dalam Al-Kamiil (3/77) : ”Abdullah bin Saba’ si Yahudi dulunya
seorang Yahudi dari penduduk Shan’a dan ibunya adalah Sauda’ ”.
Ath-Thabariy
menyebutkan dalam sejarah kejadian-kejadian di tahun 30 H bahwa Ibnu Saba’
mendatangi Abu Darda’. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya,”Siapa kamu ini ? Aku
mengira kamu ini – demi Allah – seorang Yahudi !”.
Aku
(yaitu Penulis – Abu Bakr ’Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmiy) berkata,”Sehingga
’Abdullah bin Saba’ itu hanyalah seorang Yahudi yang berkedok Islam.
Asy-Syahrastani berkata dalam Al-Milal wan-Nihal (1/204) cet.
Daarul-Ma’rifah : ’Saba’iyyah adalah para pengikut ’Abdullah bin Saba’ yang
berkata kepada ’Ali : ’Kamulah, kamulah !’. Maksudnya,’Kamu adalah Tuhan’. Maka
’Ali kemudian mengusirnya ke Al-Madain”.
Orang-orang
menyangka bahwa dia dulunya seorang Yahudi lantas masuk Islam. Ketika beragama
Yahudi dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun berwasiat kepada Musa
’alaihis-salaam seperti yang dikatakannya tentang ’Ali, dialah orang
pertama yang memunculkan pernyataan adanya wasiat tentang kepemimpinan ’Ali
radliyallaahu ’anhu dan dari situlah bercabang berbagai sikap berlebihan
(ghulluw). Dia meyakni bahwa ’Ali terus hidup dan tidak akan mati,
padanya terdapat sifat ketuhanan, dan beliau tidak boleh menjadi bawahan.
Beliaulah yang datang dari awan, halilintar adalah suaranya, kilatan petir
adalah senyumannya. Beliau nanti akan turun ke bumi lantas memenuhi bumi dengan
keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kedhaliman. Ibnu Saba’ menampakkan
ucapan ini setelah wafatnya ’Ali radliyallaahu ’anhu dan adanya sejumlah
orang yang berhimpun mendukungnya. Merekalah kelompok pertama yang menyatakan
tawaqquf, ghaib, dan akan kembalinya ’Ali. Mereka juga menyatakan
menjelmanya sebagian sifat ketuhanan pada para imam setelah ’Ali
radliyallaahu ’anhu.
Dia
(’Abdullah bin Saba’) berkata,”Makna seperti ini sebenarnya juga diketahui oleh
para shahabat, sekalipun mereka berseberangan dengan keinginannya (’Ali). Ini
’Umar bin Khaththab, ketika ’Ali mencungkil mata seseorang dengan benda tajam di
tanah suci, dilaporkan kepadanya (’Umar) dan ia berkomentar,’Apa yang sanggup
aku katakan terhadap tangan Allah yang telah mencungkil mata di tanah suci milik
Allah ?’. Jadi ’Umar memberikan baginya sebutan ketuhanan karena memang ’Umar
mengetahui sifat itu pada diri ’Ali”.
Berikut
ini adalah biografi ’Abdullah bin Saba’ si Yahudi dalam kitab
Mizaanul-I’tidaal karya Adz-Dzahabi dan Lisaanul-Miizaan karya
Ibnu Hajar.
Al-Hafidh
Adz-Dzahabi berkata,”Abdullah bin Saba’ termasuk orang-orang zindiq yang paling
ekstrim, sesat, dan menyesatkan. Aku mengira ’Ali yang membakarnya dengan api.
Al-Jauzajani berkata : ’Dia meyakini bahwa Al-Qur’an itu hanya satu bagian dari
sembilan bagian yang ilmunya ada pada ’Ali. ’Ali mengusirnya setelah bertekad
melakukannya”.
Al-Hafidh
Ibnu Hajar berkata dalam Lisaanul-Miizaan (29/30) :
”Ibnu
’Asakir berkata dalam Tarikh-nya : ’Asalnya dari Yaman, dulunya dia
seorang Yahudi kemudian dia menampakkan ke-Islaman. Kemudian dia berkeliling ke
negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa
dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus
untuk tujuan tadi pada masa ’Utsman’.
Kemudian
dia (Ibnu ’Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin ’Umar At-Tamimi dalam
Al-Futuh dengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga
dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata : Telah memberikan hadits kepada
kami Muhammad bin ’Abbad, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyan,
dari ’Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan : Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata :
رأيت
المسيب بن نجبة أتى به دخل على المنبر فقال ما شأنه فقال يكذب على الله وعلى
رسوله
Aku
melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya (yaitu Ibnu Saba’), sementara
’Ali sedang berada di atas mimbar. Lantas beliau (’Ali) berkata,”Ada apa
dengannya ?”. Al-Musayyib berkata,”Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya”.
[1]
Beliau
(Ibnu ’Asakir) juga berkata : Telah menceritakan kepada kami ’Umar bin Marzuq,
dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail,
dari Zaid bin Wahb, dia berkata : ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ta’ala
’anhu berkata,
ما
لي ولهذا الخبيث الأسود يعني عبد الله بن سبأ كان يقع في أبي بكر وعمر رضى الله
تعالى عنهما
”Apa
urusanku dengan al-hamil [2] yang hitam ini – yaitu ’Abdullah bin
Saba’ - ?. Dia biasa mencela Abu Bakar dan ’Umar radliyalaahu ta’ala ’anhuma”.
[3]
Dari
jalan Muhammad bin ’Utsman bin Abi Syaibah, dia berkata : Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Al-’Alla’ dia berkata : Telah menceritakan kepada kami
Abu Bakar bin Ayyas, dari Mujahid, dari Asy-Sya’bi, dia berkata : ”Orang pertama
yang berbuat kedustaan adalah ’Abdullah bin Saba’”. Abu Ya’la Al-Mushili berkata
dalam Musnad-nya : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dia berkata
: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadi, dia berkata :
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Shaalih, dari Al-Haarits bin
’Abdirrahman, dari Abul-Jalas, ia berkata : Aku mendengar ’Ali berkata kepada
’Abdullah bin Saba’ :
والله
ما أفضى إلي بشيء كتمه أحدا من الناس ولقد سمعت يقول إن بين يدي الساعة ثلاثين
كذابا وإنك لأحدهم
”Demi
Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatupun yang beliau
sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku mendengar beliau
bersabda,’Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta’; dan
engkau adalah salah satu dari mereka”.[4]
Abu
Ishaq Al-Fazari berkata : Dari Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu
Az-Za’ra’, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya Suwaid bin Ghafalah masuk menemui
’Ali radliyallaahu ’anhu di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata,”Aku
melewati sekelompok orang menyebut-nyebut Abu Bakar dan ’Umar (dengan
kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan
seperti itu kepada mereka berdua. Diantara mereka adalah ’Abdullah bin Saba’ dan
dialah orang pertama yang menampakkan hal itu”. Lantas ’Ali berkata,”Aku
berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua
kecuali kebaikan”. Kemudian beliau mengirim utusan kepada ’Abdullah bin Saba’
dan mengusirnya ke Al-Madaain. Beliau juga berkata,”Jangan sampai engkau tinggal
satu negeri bersamaku selamanya”. Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga
manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang
padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua (Abu Bakar dan ’Umar), dan
akhirnya berliau berkata,”Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari
seorangpun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan
mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta”.[5]
Berita
tentang ’Abdullah bin Saba’ ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan
dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia
mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba’iyyah yang meyakini sifat ketuhanan
’Ali bin Abi Thalib dan ’Ali telah membakarnya dengan api pada masa
kekhalifahannya” [selesai perkataan Ibnu Hajar dalam Lisaanul-Miizaan].
Amirul-Mukminin
’Ali bin Abi Thalib telah membakar pengikut si Yahudi ’Abdullah bin Saba’
setelah beliau menasihati agar mereka kembali dan bertaubat kepada Allah dari
kesesatan dan penyelewengan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan (12/335) dalam
Fathul-Baari no. 6922, beliau berkata : Telah menceritakan kepada kami
Abu An-Nu’mar Muhammad bin Al-Fadhl ia berkata : Telah menceritakan kepada kami
Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari ’Ikrimah bahwasannya ia berkata :
أتى
علي رضى الله تعالى عنه بزنادقة فأحرقهم فبلغ ذلك بن عباس فقال لو كنت أنا لم
أحرقهم لنهي رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تعذبوا بعذاب الله ولقتلتهم لقول رسول
الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقتلوه
”Didatangkan
kepada ’Ali radliyallaahu ’anhu sekelompok orang zindiq, lantas beliau
membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu ’Abbas radliyallaahu
’anhuma, maka beliau berkata : ”Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku
tidak akan membakarnya, sebab ada larangan dari Rasulullah shallallaahu
’alaihi wasallam : ’Janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah (yaitu
api), akan tetapi aku akan membunuhnya karena sabda Rasulullah
shallallaahu ’alaihi wasallam : ’Barangsiapa yang mengganti agamanya,
maka bunuhlah ia”.
Ibnu
Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata :
”Abul-Mudhaffar
Al-Isfirayini mengatakan dalam Al-Milal wan-Nihal bahwa yang dibakar oleh
’Ali itu adalah orang-orang Rafidlah yangmengklaim sifat ketuhanan pada diri
’Ali. Dan mereka itu adalah Saba’iyyah. Pemimpin mereka adalah ’Abdullah bin
Saba’, seorang Yahudi yang menampakkan keislaman. Dia membuat bid’ah berupa
ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami
riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir Al-Mukhlish dari jalan ’Abdullah
bin Syuraik Al-’Amiriy, dari ayahnya ia berkata : Dikatakan kepada ’Ali :
’Disana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau
adalah Rabb mereka’. Lantas beliau memanggil mereka dan berkata kepada mereka :
’Celaka kalian, apa yang kalian katakan ?’. Mereka menjawab : ’Engkau adalah
Rabb kami’., pencipta kami, dan pemberi rizki kami’. ’Ali berkata : ’Celaka
kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana
kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah,
maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak. Dan jika aku bermaksiat,
maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan
kemballah’. Tetapi mereka tetap enggan.
Ketika
datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada ’Ali, kemudian datanglah
Qanbar dan berkata,’Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti
itu’. ’Ali pun berkata,’Masukkan mereka kemari’. Tetapi mereka masih mengatakan
seperti itu juga. Ketiga hari ketiga, beliau berkata,’Jika kalian masih
mengatakannya, aku benar-benar akan membunuh kalian dengan cara yang paling
buruk’. Tetapi mereka masih berkeras masih menjalaninya. Maka ’Ali
berkata,’Wahai Qanbar, datangkanlah kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat
galian dan alat-alat kerja lainnya. Lantas, buatkanlah untuk mereka parit-parit
yang luasnya antara pintu masjid dengan istana’. Beliau juga berkata,’Galilah
dan dalamkanlah galiannya’.
Kemudian
beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di
parit-parit tersebut. Beliaupun berkata,’Sungguh aku akan lempar kalian ke
dalamnya atau kalian kembali (pada agama Allah)’. Maka ’Ali melempar mereka ke
dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata :
اني
إذا رأيت أمرا منكرا - أوقدت ناري ودعوت قنبرا
Ketika
aku melihat perkara yang munkar
Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar
Aku sulut apiku dan aku panggil Qanbar
Ini
adalah sanad yang hasan.
[selesai
perkataan Ibnu Hajar dalam Fathul-Baari].
Adapun
’Abdullah bin Saba’, maka ’Ali mengusirnya ke Al-Madaain. Ketika ’Ali meninggal
dan berita kematian ’Ali sampai kepada ’Abdullah bin Saba’, dia berkata kepada
orang yang membawa berita,”Seandainya pun engkau membawa berita kepada kami
membawa otaknya dimasukkan ke dalam tujuhpuluh kantong dan engkau berdirikan
tujuhpuluh orang saksi yang adil, maka tentu kami masih bisa memastikan bahwa
dia belum terbunuh dan tidak akan mati sampai menguasai bumi”.[6]
Ibnu
Saba’Al-Yahudi memanfaatkan kematian Amirul-Mukminin ’Ali bin Abi Thalib, dia
susupkan keyakinan-keyakinan rusaknya dan diterima oleh para pengikutnya dari
orang-orang Rafidlah. Mereka pun kemudian menyebarkannya dan menyeru kepadanya.
Di sini, kami akan menyebutkan sebagian yang diperbuat oleh orang Yahudi ni dan
keyakinan-keyakinan rusaknya yang dia masukkan (ke dalam tubuh kaum muslimin) :
- Mencetuskan kelompok yang menyimpang ini, yaitu Rafidlah.
- Upayanya untuk membunuh khalifah yang lurus Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya : dua anak perempuan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam), yaitu ’Utsman bin ’Affan radliyallaahu ’anhu.
- Mencela shahabat dan mengkafirkannya, terutama Abu Bakar, ’Umar, dan ’Utsman radliyallaahu ’anhum.
- Keyakinan adanya wasiat tertulis bagi ’Ali.
- Sikap ekstrim terhadap ’Ali dan ahli bait.
- ’Aqidah bada’ (menjadi nampak).[7]
- Pengkultusan ’Ali radliyallaahu ’anhu.
- Keyakinan tentang tidak meninggalnya ’Ali radliyallaahu ’anhu.
Orang-orang
Rafidlah mengambil ’aqidah yang jelek yang disusupkan oleh orang Yahudi ini [8] dan mereka sampai sekarang masih meyakini
’aqidah-’aqidah ini dan membelanya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami Al-Imam
Al-Wadi’iy [9] dalam kitabnya Al-Ilhadul-Khumaini
fil-Ardlil-Haramain hal. 110, Cet. Daarul-Hadits :
”Mudah-mudahan
kaum muslimin mengambil pelajaran dari kisah ’Abdullah bin Saba’ sehingga mereka
waspada dari tipu daya dan keburukan orang-orang Rafidlah, sebab seruan mereka
terbangun di atas kedustaan dan sungguh betapa miripnya malam ini dengan malam
sebelumnya. Orang-orang Rafidlah sekarang menganut keyakinan ’Abdullah bin
Saba’”.
Ketika
’aqidah orang-orang Rafidlah diambil dari orang Yahudi ini, maka kamu dapati
keserupaan mereka dengan Yahudi dalam banyak perkara. Penulis [10] telah meletakkan sebuah pasal dalam
risalah ini seputar masalah tersebut. Rafidlah memiliki beberapa nama. Mereka
disebut Al-Itsna ’Asyariyah nisbat kepada keyakinan mereka tentang 12 imam.
Mereka dinamakan Ja’fairiyyah, nisbat kepada Ja’far Ash-Shaadiq. Mereka
dinamakan Imamiyyah karena berpandangan kepemimpinan itu hanya untuk ’Ali dan
anak keturunannya, dan mereka menunggu seorang imam yang akan muncul di akhir
jaman. Mereka juga dinamakan Rafidlah karena sikap mereka yang meninggalkan Zaid
bin ’Ali sebagaimana pembahasan lalu.[11]Demikianlah, dan hendaknya diketahui oleh
setiap muslim bahwa orang-orang Rafidlah pada hakekatnya adalah para musuh
Islam. Hanyalah mereka berkedok Islam untuk menghantam Islam. Mereka
bahu-membahu dengan semua musuh Islam untuk menghadapi Islam serta bekerjasama
dengan semua orang jahat untuk melawan Islam. Laa haula walaa quwwata illaa
billaah.
Catatan
kaki :
[2]
Al-Hamil
adalah sebutan untuk segala sesuatu yang busuk, dan dia berarti orang yang botak
dan tidak mempunyai rambut. (Al-Qaamus).
[4]
Atsar ini tsabit
(kokoh), diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah
no. 1325, Abu Ya’la dalam Musnad-nya
(449), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah
(982). Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid
(7/333) : “Para perawinya tsiqah
(terpercaya)”.
[7]
Yaitu orang-orang Rafidlah meyakini bahwasannya akan menjadi terang sesuatu bagi
Allah setelah sebelumnya tersembunyi. Maha Suci Allah dari apa yang mereka
katakan dengan ketinggian yang besar. Silakan lihat kitab Buthlaanu
’Aqaaid Asy-Syi’ah
karya Al-’Allamah Muhammad ’Abdus-Sattar At-Turisi, hal. 23 dan Mas-alatut-Taqrib
baina Ahlis-Sunnah wasy-Syi’ah
(1/344).
[8]
Tidak ada celah untuk mengingkari eksistensi ‘Abdullah bin Saba’ Al-Yahudiy,
sebagaimana disangka oleh sebagian orang bahwa dia hanyalah cerita dongeng
belaka. Buku-buku sejarah telah menetapkan hakekat perbuatannya bahkan
menetapkan hakekat dirinya, sampai-sampai ditulis oleh orang-orang Syi’ah
sendiri.
Tentang
hakekat ’Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi ini telah dijelaskan oleh saudaraku yang
mulia ’Ali Ar-Razihi dalam kitabnya Taudlihun-Nabaa’
’an Mua’assis Asy-Syi’ah ’Abdullah bin Saba’ baina Aqlami Ahlis-Sunnah
wasy-Syi’ah wa Ghairihim.
Silakan merujuknya.
[10]
Yang dimaksudkan oleh Asy-Syaikh Abu Bakar ‘Abdurrazzaq bin Shalih An-Nahmi
adalah Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhab At-Tamimi rahimahullah.
Sebagai catatan, tulisan ini merupakan bagian dari muqaddimah Asy-Syaikh
An-Nahmi ketika beliau memberikan ta’liq
terhadap kitab Risalah
fir-Radd ’alar-Rafidlah
karya Asy-Syaikh Muhammad bin ’Abdil-Wahhab rahimahullah
– Abul-Jauzaa’.
[11]
Dan silakan lihat kitab Asy-Syi’ah
wat-Tasyayyu’
karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah
hal. 296.
Нема коментара:
Постави коментар